Hadis Nabi SAW Jelaskan Tiga Penyelamat, Tiga Perusak, dan Tiga Pengangkat Derajat Manusia

Neo Jurnalis

ELHARAMAIN NEWS — Penjelasan mengenai tiga perkara penyelamat, perusak, pengangkat derajat, dan penebus dosa yang disampaikan Rasulullah SAW kembali menjadi rujukan penting dalam akhlak Islam. Syekh Muhammad Nawawi al-Banteni membahas hadis ini secara rinci dalam karya monumentalnya, Nashaihul ‘Ibad. Riwayat tersebut dinukil dari sahabat Abu Hurairah dan Abdurrahman bin Shakhr.

Dalam kitab tersebut, beliau menuliskan sabda Nabi SAW sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
“ثَلاثٌ مُنْجِيَاتٌ، وَثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ، وَثَلاثٌ دَرَجَاتٌ، وَثَلاثٌ كَفَّارَاتٌ.
فَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَتَقْوَى اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلانِيَةِ، وَالْقَوْلُ بِالْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالسُّخْطِ، وَالْقَصْدُ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ.
وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَهِيَ أَشَدُّهُنَّ.
وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ”.

Tiga Perkara Penyelamat

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyebut tiga amalan yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Amalan pertama ialah ketakwaan kepada Allah, baik saat berada dalam kesendirian maupun ketika berada di tengah keramaian. Amalan kedua ialah kesederhanaan dalam hidup, terlepas dari kondisi ekonomi. Amalan ketiga ialah berlaku adil baik dalam suasana tenang ataupun saat emosi.

Syekh Nawawi menjelaskan makna ketakwaan tersembunyi. Menurut beliau, “Ketakwaan ketika dalam keadaan sendiri itu lebih utama derajatnya dibanding ketika sedang berada di tempat umum,” karena mencerminkan kejujuran spiritual.

Tiga Perkara Perusak

Hadis ini juga mencantumkan tiga perkara yang merusak dan menjerumuskan manusia. Pertama, sifat bakhil yang diikuti dengan tindakan, bukan sekadar berada dalam hati. Kedua, menuruti hawa nafsu. Ketiga, mengagumi diri sendiri atau merasa lebih tinggi dari orang lain.

Syekh Nawawi menegaskan, “Bakhil yang dimaksud di sini adalah sifat bakhil yang diikuti dengan perbuatan,” sehingga seseorang yang mampu menahan diri dari mengikuti sifat tersebut tidak termasuk dalam golongan perusak.

Tiga Amalan Pengangkat Derajat

Hadis tersebut melanjutkan dengan tiga amalan yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Pertama, memberikan makan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, menyebarkan salam kepada sesama Muslim, baik dikenal maupun tidak. Ketiga, mendirikan salat malam ketika orang lain sedang tidur nyenyak.

Syekh Nawawi memaknai amalan salam sebagai pintu sosial yang luhur. Ia menulis bahwa salam membuka hubungan kasih sayang dan menguatkan ukhuwah.

Tiga Amalan Penebus Dosa

Bagian terakhir hadis menjelaskan tiga amalan penghapus dosa. Amalan pertama ialah menyempurnakan wudu meskipun dalam keadaan sangat dingin. Amalan kedua ialah melangkahkan kaki menuju salat berjamaah. Amalan ketiga ialah menunggu salat berikutnya setelah selesai menunaikan salat.

Tentang amalan wudu dalam kondisi sulit, Syekh Nawawi menjelaskan, “Menyempurnakan wudhu di saat sulit menjadi tanda kesungguhan dalam menjaga ibadah,” karena menunjukkan komitmen spiritual yang tinggi.

Hadis ini menyajikan fondasi akhlak Islam yang seimbang antara ketakwaan pribadi, kontrol diri, amal sosial, dan ibadah yang berkesinambungan. Pesan Rasulullah SAW dalam riwayat ini menjadi pedoman agar umat Muslim mampu meniti jalan keselamatan seraya menjauhi sifat-sifat yang membawa kesengsaraan.

Related Post