Danantara Dinilai Mampu Jadi Motor Pembiayaan Industri Halal Nasional

Neo Jurnalis

ELHARAMAIN NEWS — Para ekonom menilai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memiliki peluang besar untuk memperkuat pembiayaan industri halal yang sedang tumbuh pesat. Danantara diyakini mampu menjadi instrumen pendanaan yang mendorong sektor syariah lebih kompetitif secara global.

Peneliti Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (CSED Indef), Handi Risza Idris, menjelaskan perkembangan industri halal tidak lagi terbatas pada negara mayoritas muslim. Dalam beberapa tahun terakhir, Global Islamic Economy Indicator (GIEI) memotret meningkatnya konsumsi produk halal di berbagai negara.

Menurutnya, masyarakat muslim global pada 2024–2025 banyak mengalokasikan belanja untuk produk halal seperti makanan-minuman, kosmetik, farmasi, pariwisata ramah muslim, media islami, hingga keuangan syariah.

“Industri halal kini berubah menjadi tren global. Seharusnya ini dapat menjadi baseline bagi kita untuk mengembangkan industri halal dan keuangan syariah di Indonesia,” kata Handi dalam diskusi publik Indef bertajuk “Menakar Potensi Danatara sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia” yang digelar daring, Ahad (30/11/2025).

Ia menambahkan aset keuangan syariah global telah mencapai 4,5 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 11 persen pada 2022, sementara pengeluaran muslim terbesar berada pada sektor makanan halal senilai 1,403 triliun dolar AS.

Sektor Halal Menopang PDB Nasional

Handi menerangkan industri syariah memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Pada 2024, usaha syariah dan pembiayaan syariah menopang 46,72 persen atau sekitar Rp 9.826 triliun Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Sementara itu, sektor unggulan Halal Value Chain (HVC)—mulai dari pertanian, makanan-minuman halal, fesyen muslim hingga pariwisata ramah muslim—menopang lebih dari 25 persen perekonomian nasional.

Menurut Handi, kebijakan sertifikasi halal melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar besar industri halal. Hingga Oktober 2024, tercatat 5,38 juta produk telah bersertifikat halal dan angka ini diproyeksikan mencapai 10 juta dalam waktu dekat.
Ekspor Produk Halal Meningkat

Perdagangan produk halal nasional, khususnya makanan dan minuman, menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, ekspor sektor tersebut mencapai 44,6 miliar dolar AS, sedangkan impor berada pada angka 26,49 miliar dolar AS. Dengan demikian, Indonesia mencatat net export sebesar 18,14 miliar dolar AS.

Handi menilai peluang tersebut harus dimaksimalkan melalui dukungan pendanaan struktural dari Danantara. “Ujungnya bagaimana kita bisa membuat ekosistem halal yang kuat. Danantara sebagai instrumen pembiayaan punya peran strategis untuk mendorong industri halal,” ujarnya.

Tiga Strategi Daya Saing Global

Handi menyampaikan tiga strategi yang dapat dijalankan Indonesia untuk memperkuat daya saing global sektor halal dengan dukungan Danantara:

1. Pemasaran dan Promosi Internasional

Mulai dari kerja sama bilateral, platform digital, hingga branding halal Indonesia di berbagai pameran global.

2. Perluasan Pembiayaan Syariah

Melalui penguatan perbankan syariah, pasar modal syariah, hingga fintech syariah sebagai sumber pembiayaan industri halal.

3. Kerja Sama Internasional

Terutama dalam membuka akses ekspor produk halal dan harmonisasi standar halal agar lebih mudah diterima pasar global.

Ia menilai pemanfaatan optimal dari strategi tersebut dapat menjadi sumber penerimaan negara yang besar.

Related Post